Rabu, 15 Juli 2009

Cara mensetting blog

Setelah pada postingan sebelumnya kita belajar bagaimana cara membuat blog di blogspot, sebelum mulai blogging tentunya ada beberapa hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Salah satunya yaitu melakukan settingan pada blog yang baru kita buat.

Pada postingan kali ini, saya akan sedikit memberi masukan kepada teman2 yang baru membuat blog, bagaimana cara setting blog yang benar. Silahkan ikuti cara2 di bawah ini :

1. Login dulu di blogger.
2. Kalo dah masuk, klik Setting
3. Pada tab Basic atau Dasar isi seperti di bawah ini :

  • Title >> Isi dengan judul blog sobat
  • Description >> Isi dengan deskripsi blog sobat
  • Add your blog to our listing >> pilih yes
  • Let's search engines find your blog >> pilih yes
  • Show quick editing on your blog >> pilih yes. Kalo no juga gpp kok
  • Show email post links >> pilih yes atau no ga masalah
  • Adult content >> pilih no. Soalnya kalo dipilih yes ntar blog sobat dianggap porno lagi. Jangan sampai ya....kecuali kalo emang isinya porno .
  • Show compose mode for all your blogs >> yes atau no ga masalah. Tapi kalo menurut saya yes lebih baik (memudahkan kita dalam postingan)
  • Enable transition >> pilih No
  • Klik Save Setting

4. Menu Publishing

  • Kalo pengen robah alamat blog anda, ya tinggal ganti aja kata yang ada di dalam kolom. Tapi sebaiknya jangan...

5. Menu Formatting

  • Show >> pilih post jangan days
  • Date header format >> pilih tanggal sesuai selera sobat
  • Archive index date >> pilih sesuai selera sobat aja
  • Timestamp format >> pilih yang simple aja deh....
  • Timezone >> pilih regional waktu kita. Contoh untuk WIB : (GMT+07:00) jakarta
  • Language >> Pilih sesuai bahasa Blog Sobat
  • Convert line breaks -- pilih Yes..kalo No juga ga apa apa sih
  • Show title field -- pilih yes
  • Show link field -- pilih yes atau no (terserah)
  • Enable float alignment -- pilih yes atau no (no problem)
  • Klik save setting

6. Menu Comments

  • Comments -- pilih show
  • Who can comment -- pilih Anyone (Supaya setiap orang bisa berkunjung ke blog kita)
  • Comments default for posts -- pilih New Posts have comment
  • Back links -- pilih show
  • Backlink default for post -- pilih New posts have backlink
  • Comment timestamp format -- pilih yang simple aja deh
  • Comment form messages -- mo di isi kek mo ngga kek terserah
  • Show comment in a popup windows -- pilih yes
  • Enable comment moderation -- pilih No. kecuali buat sobat sobat yang Ja'im, silahkan pilih yes. (maksudnya untuk pengecekan aja. Kalo pilih no maka komentar langsung masuk ke blog sobat, kalo pilih yes maka komentar nunggu dulu konfirmasi dari sobat selaku yang mpunya blog)
  • Show word verification -- pilih yes (biar komentar spam ga bisa masuk)
  • Show images profile on comment -- pilih yes
  • Comment notification email -- isi dengan alamat email sobat (maksudnya...kalo setiap ada yang ninggalin komentar di blog kita, akan dikirim juga ke email kita)
  • Klik Save Setting

7. Menu Archiving

  • Archive frequency -- pilih monthly
  • Enable post page -- pilih yes
  • Jangan lupa simpan ya.....

8. Menu SIte feed

  • Allow blogs feed -- pilih full
  • Post feed redirect url -- masukan alamat feed sobat contoh untuk blog ini "http://feeds.feedburner.com/kursus_blog". kalo belum punya, silahkan daftar di sini (gratis) atau kosongin aja. (untuk pendaftaran feedburner akan saya terangkan nanti di postingan berikutnya)
  • Klik Save Setting

9. Selesai deh......menu yang lain tinggalin aja.

Ok......sekarang blog anda sudah di setting dengan baik. Salam……….

Selasa, 14 Juli 2009

Promo membangun pendidikan dasar

Kutipan dari :
Pasca Indonesia-Pasca Einstein,
Esei-esei tentang Kebudayaan Indonesia Abad ke-21, halaman 14-15
YB Mangunwijaya

....
Dunia persekolahan tidak mengajar anak didik untuk berpikir, untuk ekspoloratif dan kreatif. Seluruh suasana dan gaya persekolahan adalah penghafalan tanpa pengertian yang memadai, taat kepada komando, sedangkan bertanya apalagi berpikir kritis praktis adalah tabu. Siswa tidak didik tetapi di-drill, dilatih, ditatar, dibekuk agar menjadi penurut - tidak jauh berbeda dari pelatihan binatang-binatang "pintar dan terampil" dalan sirkus. Jikalaupun ia diajari sesuatu, maka sesuatu itu diajarkan tanpa konteks sosial budayanya. Sistem pengajaran semacam itu bagus untuk kaum militer yang memang kodratnya dipersiapkan demi dunia komando didalam keadaan perang, tetapi fatal untuk anak didik yang justru harus bebas untuk bertanya, bahkan berani untuk bertanya karena harus berjiwa eksploratif dalam segala situasi dan kondisi, agar kreatif dan konstruktif nantinya.

Namun, ternyata salah satu masalah sosial budaya yang sangat rawan dan rupa-rupanya menuju ke jurang ialah dunia persekolahan kita. Ini kita catat tanpa menyalahkan pelaku pelaku pendidik serta pengajarnya, khususnya para guru, karena mereka hanya menjalankan politik pendidikan dan pengajaran. Mereka bukan pengambil keputusan dan pengatur siasat dasarnya. Khususnya lagi di jajaran sekolah dasar, karena disinilah dasar dari segala struktur persekolahan diatasnya, maka harus dibangun secara bagus dan berkualitas tinggi. Berbicara ekstrem agar jelas, dapat dikatakan bahwa universitas-universitas maupun sekolah-sekolah lanjutan atas boleh bermutu rendah atau bobrok, akan tetapi sekolah atau lebih tepatnya pendidikan dasar jangan! Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala-galanya yang nanti dibangun diatasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing-puing. Seperti atap akan rontok apabila tiang-tiang roboh karena umpak-pondasinya lemah. JIKA DAYA PIKIR DAN SEMANGAT EKSPLORATIF DAN KREATIF BERANTAKAN DARI AKAR-AKARNYA, MAKA APAPUN YANG KITA PERBUAT TIDAK AKAN BERBOBOT DAN SITUASI SOSIAL BUDAYA MENJADI SANGAT RAWAN.

UAN dalam bingkai pendidikan holistik

Oleh William Chang | Kompas

TERLEPAS dari maksud baik apapun, dampak negatif pemberlakuan Ujian Akhir Nasional (UAN) tak terelakkan. Tindak kekerasan (perusakan sekolah) dan meneguk minuman keras termasuk reaksi atas ketidaklulusan menempuh UAN 2004 (Kompas, 15/6/2004). Selain itu, metode "penilaian" hasil ujian siswa (baca: "pelulusan", "penguntungan" dan "perugian" siswa) perlu dipertanyakan.


Ketajaman intelektual mendapat sorotan istimewa dalam dunia pendidikan formal. Terkesan, keunggulan (arĂȘte, virtue) kepribadian seorang anak didik ditakar berdasarkan relativitas angka yang umumnya telah direkayasa. Secara tak langsung, dari satu sisi, sistem ini lebih menghargai pribadi anak-anak berintelektualitas tinggi daripada anak-anak berintelektualitas sedang dan rendah. Ini termasuk berita diskriminatif dalam dunia pendidikan formal.


Demi perbaikan dunia pendidikan, sistem (penilaian) UAN perlu lebih dicermati. Pertama, model soal multiple choice acapkali membingungkan dan model ini dari satu sisi mengajar anak didik untuk berspekulasi dan mereka-reka dalam hidup. Kedua, metode konversi (jelmaan dari sistem "katrol-katrolan") perlu ditinjau ulang, sebab metode ini membuka peluang luas untuk mempermainkan (baca: menyulap) hasil keringat dan perasan otak siswa. Bukan mustahil, kesempatan berpolitik uang akan bertumbuh subur dalam dunia pendidikan formal. Ketiga, anak didik tidak dihadapkan dengan realitas hidup dan hasil perjuangannya sendiri, namun anak-anak didik diperkenalkan dengan budaya rekayasa.

Sistem penilaian UAN pada dasarnya mendidik anak-anak kita untuk mengubah sesuatu tanpa memperhatikan hak pihak lain. Merugikan pihak lain tanpa landasan yang adil. Suatu keberhasilan semu diperoleh tidak melalui proses normal, melainkan melalui sistem spekulatif yang berciri untung-untungan. Ketidakadilan muncul dalam dunia pendidikan formal karena siswa yang berhak menerima nilai semestinya merasa dirugikan oleh sistem.
Sementara itu, terdapat sejumlah siswa diuntungkan oleh sistem ini. Anak didik tidak diajar untuk menghargai hak orang lain sebagaimana mestinya. Biarkan anak didik sendiri yang menentukan hasil keringat mereka tanpa manipulasi yang merugikan dan menguntungkan. Apakah pencapaian 4,01 dengan sendirinya telah menjamin kualitas anak didik dalam dunia pendidikan?

Pribadi berintegritas

Relativitas dimensi intelektual dalam pendidikan formal memang tak tersangkalkan. Akibatnya, kualitas kepribadian anak didik tidak cukup hanya ditakar berdasarkan intelektualitas yang di-angka-kan melalui sistem penilaian tertentu. Secara ideal dan teoretis, dunia pendidikan diharapkan bisa mempersiapkan anak didik berkepribadian integral yang menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai dasar hidup manusia.


Integritas kepribadian anak didik seharusnya mengenal dan memiliki suatu sistem intelektualitas yang saling terkait (interdependent multiple intelligence) yang perlu diperkenalkan dan ditanamkan dalam dunia pendidikan formal (Bpk. Teori multiple intelligence Howard Gardner). Anak didik yang berintelektualitas integral sanggup berkomunikasi dengan diri-sendiri, sesama dan lingkungan hidup sambil memperhatikan nilai-nilai luhur yang seharusnya dijunjung tinggi. Dimensi moralitas jadi bahan pertimbangan dalam pola pikir, bicara dan tindak-tanduk. Suatu pemikiran yang terpaut dengan kenyataan dan pengalaman hidup sangat dibutuhkan. Sistem penilaian UAN secara tak langsung mengajar anak didik untuk mencapai nilai tertentu tanpa mempertimbangkan dimensi moral metode yang diterapkan pada penilaian.

Makna intelektualitas integral direduksi melalui proses penilaian yang terkait dengan angka-angka yang ditentukan oleh pihak lain menurut standar yang dianut. Anak didik berintelektualitas sehat dengan sendirinya menilai sistem penilaian UAN tidak adil dan merugikan pihak yang berhak untuk memperoleh nilai lebih. Anak didik yang belajar sungguh-sungguh akan dirugikan, sedangkan anak didik yang malas belajar akan diuntungkan. (Kompas, 15/6/2004).

Pendidikan holistik

Ke arah manakah pendulum dunia pendidikan formal kita? Metode penilaian UAN mengandung unsur manipulasi pihak yang berkompetensi dalam menentukan hasil usaha dan perjuangan anak didik. Yang lebih tragis adalah pendidikan ketidakadilan di kalangan anak- anak didik. Secara tak sadar dunia pendidikan formal kita sedang mempersiapkan dan melahirkan generasi muda yang menghalalkan sistem "katrol-katrol"-an, mengubah realitas menurut maksud manusia, merugikan pihak lain tanpa rasa bersalah dan diuntungkan dengan jalan haram.

Sistem penilaian UAN perlu mempertimbangkan kerangka holistik pendidikan tanpa meninggalkan cara pandang berperspektif interdisipliner dalam suatu konteks keseluruhan yang membantu manusia untuk lebih memahami dan menyelami makna pendidikan humaniora. Dikotomi klasik yang memisahkan otak- hati, pengetahuan-agama, keindahan-fungsi segera ditinggalkan karena pendekatan ini akan menimbulkan fragmentasi dalam hidup manusia.

Betapapun, metode penilaian UAN perlu ditempatkan dalam bingkai dunia pendidikan holistik tempat manusia belajar hidup bersama dengan yang lain. Ruang kelas menjadi sebuah komunitas. Dunia pendidikan menjadi tempat bagi manusia untuk mengembangkan hubungan-hubungan baik, adil, terbuka, jujur, saling menghormati, tak merugikan pihak lain. Pendidikan ini tidak lagi memprioritaskan kompetisi, tapi proses belajar saling mendukung, kerja sama dan membebaskan. Suatu masyarakat yang lebih baik, adil dan sejahtera menjadi sasaran utama dalam proses pendidikan holistik. Lalu, apakah sistem penilaian UAN mendapat tempat dalam konteks pendidikan ini?

William Chang Pengamat sosial, tinggal di Pontianak

Televisi bikin anak judes

Jakarta, Kamis
Menonton acara bermuatan pendidikan seperti Sesame Street 1-3 jam seminggu, efeknya terbukti positif bagi kecerdasan anak. Namun, menonton acara hiburan dan film kartun lebih lama, nilai akademik anak rendah. Perilaku judes pun menambah panjang daftar efek negatif TV setelah kegemukan, agresivitas, dan inatensi.

"Kenapa ya anak-anak sekarang kok judes-judes, kalau diajak bicara lebih galak daripada kita orangtuanya? Padahal, kita tidak pernah mengajarkan begitu," tanya seorang ibu kepada temannya. Teman itu menimpali, "Oh, memang lain dibanding zaman kita kecil dulu. Boro-boro galak, ngomong pun sama orangtua mesti sopan dan halus. Mana berani kita membantah?"

Zaman memang telah berubah, yang berani sama orangtua bukan hanya anak si A atau si B, tetapi sudah menjadi fenomena umum. Begitu juga gaya bicara anak yang semakin ceplas ceplos, terkesan judes, suka membentak, dan seolah tanpa sopan santun.

Banyak orangtua menuding TV sebagai sumber perubahan tersebut. Lebih-lebih acara bermutu yang pas buat pendidikan dan hiburan anak kelewat sulit ditemukan di TV, meski jumlah saluran semakin banyak.

Program Pendidikan

" Kita memang tidak bisa gegabah menggeneralisasi bahwa TV itu buruk bagi kepentingan tumbuh kembang anak. Tak lain karena begitu banyak saluran televisi dan sedemikian rupa ragam bentuk dan isi acara yang dapat dipilih.
Jika kedua ibu di atas dapat mengatur anak hanya menonton acara TV yang bermutu, mungkin mereka tak akan menghadapi problem berkaitan dengan perilaku negatif anak.
Sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat, yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun menunjukkan hasil yang memberi nuansa optimistis. Anak-anak yang berasal dari keluarga kelas sosial ekonomi bawah dan menengah itu secara periodik mendapatkan tes membaca, matematika, perbendaharaan kata, dan kesiapan bersekolah.

Anak-anak yang menghabiskan waktu beberapa jam saja setiap seminggunya untuk menonton program pendidikan seperti Sesame Street, Mister Rogers' Neighborhood, Reading Rainbow, Captain Kangaroo dan Mr. Wizard's World ternyata memperoleh nilai akademik lebih baik tiga tahun kemudian, dibandingkan anak-anak yang tidak menonton program pendidikan itu.
Riset tersebut juga menemukan, anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan film-film kartun terbukti memperoleh nilai akademik lebih rendah, dibanding anak-anak yang sedikit saja menghabiskan waktunya untuk menonton program yang sama.

Kalau diperhatikan alokasi waktunya, anak-anak memang menghabiskan waktu lebih sedikit untuk menonton program pendidikan. Rata-rata anak-anak tersebut menonton 1-3 jam program pendidikan setiap minggunya, jika dibandingkan rata-rata 10 hingga 16 jam anak-anak menonton program hiburan, dan 5 sampai 8 jam menonton film kartun.
Karena itu, peneliti tidak dapat memastikan apakah seandainya anak-anak itu menonton program pendidikan lebih lama juga akan menimbulkan efek negatif, dengan lebih banyak waktu terbuang untuk duduk di depan TV.
Hasil positif juga dipaparkan dari riset tersebut, berkaitan dengan tingkat usia anak. Pada anak-anak yang lebih kecil, usia 2-3 tahun, efek program pendidikan itu jauh lebih kuat.
"Program pendidikan yang bagus memberikan keuntungan jangka panjang pada semua usia, tetapi khususnya pada anak-anak yang belum mendapat pendidikan di sekolah, kebiasaan menonton yang baik itu dibentuk sejak usia dini," ungkap Aletha C. Houston, Ph.D, dari Universitas Texas di Austin, yang memimpin riset.

Pelajaran Judes

" Di samping memberikan efek berupa nilai akademik yang buruk, ternyata televisi juga menyuburkan perilaku negatif lain pada anak-anak, yaitu suka membentak alias judes.
Menurut Journal of the American Medical Association belum lama ini, anak-anak usia empat tahun yang menerima dukungan emosional dan rangsangan kognitif dari orangtuanya tidak menunjukkan gejala berperilaku judes. Sebaliknya, anak-anak usia sama yang lebih banyak "didukung dan dirangsang" oleh televisi terbukti lebih judes.

Apa yang perlu dikhawatirkan dari perilaku judes itu, sehingga para peneliti sampai menaruh perhatian sedemikian rupa?
Ternyata mereka memprediksi dampak buruknya bagi anak di masa depan, antara lain meningkatnya agresivitas, rendahnya kemampuan bergaul dan berempati, dan rendahnya kemampuan kognitif.

Dengan demikian, perilaku judes ini menambah daftar efek negatif televisi terhadap anak-anak, antara lain: kegemukan, gangguan pemusatan perhatian (inatensi), dan agresivitas.
Para peneliti menyarankan supaya orangtua lebih banyak memberikan dukungan emosional dan rangsangan kognitif bagi anak, menggantikan jam-jam mereka menonton TV. Ini berarti membatasi anak menonton televisi sangat disarankan. Pilih hanya yang betul-betul baik bagi pendidikan anak. (Senior)

Dari buta huruf sampai cilukba

Oleh AGUS M. IRKHAM

Jika pernyataan Mendiknas -- sementara versi LIPI, 6,7 persen dari 220 juta jiwa total jumlah penduduk Indonesia -- bisa kita pegang, berarti pemerintah telah sukses mengentaskan penduduk buta huruf sekitar 10 persen (jumlah buta aksara di Indonesia tahun 1996 sekitar 16 persen). Dengan kata lain, jumlah penduduk yang telah melek huruf hingga akhir tahun 2004 sebesar 93,3 persen. Sunguh istimewa. Karena rata-rata di negara berkembang, hanya sekitar 69 persen.

Baik. Katakanlah kita percaya dengan data yang diberikan Mendiknas: ada lebih dari 200 juta penduduk Indonesia yang melek huruf. Akan tetapi, mengapa persentase akses masyarakat terhadap koran hanya 2,8 persen? Tahun 1999 saja, rasio jumlah penduduk dengan surat kabar di Indonesia hanya 1 : 43 alias satu surat kabar dibaca oleh 43 orang. Bandingkan dengan Malaysia (1 : 8,1), Jepang (1 :1,74), serta India (1: 38,14).

Jumlah buiku baru yang diterbitkan pun hanya 0,0009 persen dari total penduduk. Artinya, sembilan judul buku baru untuk setiap sejuta penduduk. Padahal rata-rata negara berkembang 55 per satu juta penduduk. Negara maju memiliki 513 judul buku per satu juta penduduk (Daniel Dhakidae, 1997;187). Rupa-rupanya melek huruf yang tinggi tidak selalu diikuti dengan bertambahnya jumlah buku dan media teks lainnya sebagai ukuran sahih melek budaya.

Buta huruf-budaya

Satu-satunya spasi interpretasi atas kontradiksi data tersebut adalah: besarnya angka buta huruf secara budaya. Bisa membaca, tapi jarang, bahkan tidak pernah mempraktikkan kemampuan membacanya. Salah satu sebab bisa karena bahan bacaan yang langka, susah mengakses bahan bacaan, atau karena sebagian besar waktunya digunakan untuk pekerjaan teknis yang melelahkan.

Secara personal, untuk mengetahui apakah secara budaya kita tergolong sudah melek huruf atau sebaliknya adalah dengan cara menanyakan: apakah secara rutin menulis surat pribadi (surat pembaca ke media, surat untuk teman, keluarga, dan kerabat dekat, atau menulis di buku harian)?

Lalu, apakah setiap bulannya menganggarkan sekian persen dari gaji untuk membeli buku? Apakah sudah menjadikan baca-tulis sebagai kebutuhan hidup sehari-hari, dengan membaca dan menuliskan hal-hal yang tidak hanya terbatas pada pekerjaan? Apakah kebutuhan untuk mendengar dan berbicara tidak selalu lebih besar daripada kebutuhan untuk membaca dan menulis? Jika jawaban atas serangkaian pertanyaan tersebut adalah "tidak!", maka sejatinya kita masih tergolong buta huruf secara budaya.

Akibat yang paling tampak dari buta huruf secara budaya adalah bertumbuhnya masyarakat cilukba. Istilah ini merujuk pada permainan atau simulasi ekspresi yang begitu cepat (tutup-buka muka). Pertumbuhan masyarakat semacam ini kian cepat, seiring kehadiran "guru” paling berpengaruh di abad ini: televisi! Televisi sebagai sisa-sisa ledakan besar (big bang) elektronik, terhitung telah sukses mengajari penontonnya beradab cilukba.

Dunia tanpa koherensi

Televisi menyajikan peristiwa "ini" sekarang, lantas peristiwa "itu” kemudian, meloncat ke hadapan kita sekejap, lalu menghilang lagi. Menurut Neil Postman, guru besar ilmu komunikasi dari Universitas New York, inilah yang disebut dunia di mana tidak ada koherensi maupun penjelasan yang masuk akal. Sepenuhnya berdiri sendiri. Seperti halnya cilukba, permainan untuk bersenang, televisi juga berbicara dalam satu bahasa: kesenangan (hiburan).

Pagi menyajikan berita aksi teror bom bunuh diri, yang membuat tegang, panas-dingin penonton. Malam tetap membuat penonton tegang, panas-dingin, karena sajian (musik) dangdut! Siang melarutkan penonton dalam kesedihan dengan liputan bencana tsunami di Aceh. Malam memicu adrenalin penonton dengan siaran langsung F1 (Formula Satu).

Di dalam televisi, simulasi cilukba tersebut terus berlangsung. Bahkan, kecepatannya melampaui kecepatan empati penontonnya. Akibatnya buat mereka, dangdut, F1, bencana tsunami, aksi teror bom, bermakna sama. yaitu hiburan.

Mereka mengadopsi pola cilukba televisi ke dalam keseharian-masyarakat tontonan. Budaya, komentar (lisan) jadi dominan.

Apa pun dikomentari, dari soal gosip perselingkuhan artis hingga soal rencana kenaikan gaji pegawai negeri. Gemar ngomel, tentang segala macam persoalan : mulai dari terorisme, korupsi, BBM, sinetron misteri, kuis SMS. Semua sebagai ajang katarsis (hiburan). Sekadar tahu (fakta). Tanpa bermaksud mengetahui lebih jauh, apa yang sebenarnya terjadi di balik persoalan tersebut (realita).

Masyarakat cilukba adalah masyarakat hangat-hangat tahi ayam (baca juga tulisan Jacob Sumardjo : smipa) . Gampang heboh, latah, emosinya gampang tersulut, tetapi juga gampang lupa. Kemarin ramai bicara harga BBM, sekarang sibuk berbicara soal impor beras, besok soal reshuffle kabinet, lusa entah larut tentang apa lagi. Ketika ditanya apa makna dari itu semua, jawabannya jana satu: lupa tuh!

Bebaskan si kecil dari depresi belajar

Jakarta, Kamis
Menjejali anak dengan beragam les dan kursus, tidak menjamin anak otomatis jadi pandai. Yang terjadi bisa sebaliknya, anak kita frustrasi, bahkan bisa bunuh diri seperti dilakukan Lysher Loh Jia Hui, siswi SD berusia 10 tahun.
"PR lagi? Jangan dong Bu, saya 'kan sudah banyak PR dari sekolah," rengek Joshua kepada ibu guru lesnya. Terang saja ia keberatan. Dalam seminggu Joshua yang baru 10 tahun umurnya itu harus mengikuti empat macam les. Apalagi sekarang di sekolahnya ada jam tambahan pelajaran, sehingga ia jadi tidak punya waktu bermain. Akibatnya, di tempat les ia jadi sering berselisih dengan temannya. Begitu sensitif, digoda sedikit saja langsung marah. Di sekolah pun perhatian terhadap proses pengajaran menurun dan sering lupa bikin pekerjaan rumah (PR).

Dengan alasan kasih sayang, apa saja dilakukan orangtua agar anaknya sukses. Siapa sih orangtua yang tidak ingin anaknya jadi yang terbaik di sekolah dan punya masa depan cemerlang? Maka, tak heran kalau banyak orang- tua memaksa anak mengikuti berbagai les dan kegiatan. Namun, jika tidak diwaspadai, hal ini malah bisa menjadi bumerang.

Bumerang itu sempat menghantam balik orangtua Lysher Loh Jia Hui akibat ulah sendiri. Ini sebuah cerita tragis y ang menimpa Lysher (Siswi SD: Selamat Tinggal Sekolah, Selamat Tinggal Hidup; Koran Tempo, 23 Agustus 2001).
Siswi kelas empat SD berusia 10 tahun asal Singapura itu, mengakhiri hidupnya dengan terjun bebas dari sebuah apartemen di tingkat lima. Ia ditemukan terkapar tewas dengan mengenakan kaus oblong - celana pendek seragam sekolahnya. Siswi yang tergolong pintar di sekolah itu sangat terpukul ketika mendapat ranking ketiga.

Haus kasih sayang

" Keputusan untuk bunuh diri yang dilakukan anak sebenarnya adalah bentuk pernyataan bahwa mereka sesungguhnya membutuhkan pertolongan.
Coba simak buku harian bertanggal 1 Mei 2001 yang dibuat oleh almarhumah Lysher,
"Horeee! Ini hari buruh! Tak ada sekolah! Dan tahukah kamu apa artinya itu? Tak ada pekerjaan rumah! Saya sangat bahagia! Meskipun kangen juga pada guru-guru dan teman-teman, saya sungguh menikmati liburan sekolah ini, karena tak ada sekolah. Sebenarnya tidak juga begitu. Saya pikir, yang jadi alasan utamanya adalah orangtuaku tidak bekerja, dan mereka berada di rumah bersama diriku! Kami dapat senang-senang, pergi keluar bersama-sama! Bukankah ini benar-benar hebat?"
Dari tulisannya, tampak Lysher merasa kesepian dan haus kasih sayang serta kehangatan dari orangtuanya.
Tanda-tanda bahwa Lysher mengalami stres berat sebenarnya dapat dideteksi orang tuanya. Sebelum kepergiannya, ia sering mengeluh ke pada ayahnya, bahwa ia punya PR. Setiap hari ia harus mengerjakan tiga pekerjaan rumah.
Sekitar 25 menit sebelum dijemput maut, ia sempat bertanya kepada pembantunya tentang ada tidaknya kemungkinan ia bisa membolos sekolah hari itu.

Mengikuti perkembangan zaman, para pelajar di sekolah dasar semakin banyak yang ikut kursus tambahan di luar pendidikan formal mereka. Anak-anak itu disuruh orangtua mereka untuk kursus bahasa Inggris, melukis, atau belajar piano. Sedangkan yang duduk di bangku SLTA juga harus ikut kursus tambahan untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
Padahal mereka masih perlu bermain. Otak mereka belum dapat dibebani oleh hal-hal yang berat. Akibatnya, jumlah anak-anak yang melakukan bunuh diri akibat tekanan-tekanan itu semakin hari semakin bertambah. Mereka melompat dari gedung sekolah atau menggantung diri. Gagal menjalin hubungan dengan teman lain jenis pun dapat menjadi faktor utama bunuh diri. Konon, angka bunuh diri pada usia dewasa meningkat. Penyebabnya: menganggur.
Bila gairah belajar anak Anda mulai menurun, sulit berkonsentrasi, sering sakit, dan sebagainya, ada kemungkinan ia mengalami depresi belajar. Apalagi jika anak Anda sering menyebut-nyebut ingin bunuh diri atau telah ketahuan sekali pernah mencoba bunuh diri, maka harus ekstra waspada!
Ini pertanda anak Anda membutuhkan pertolongan tenaga profesional. Apa yang harus dilakukan oleh orang tua untuk mengatasi depresi belajar anak? Mungkin tip berikut dapat membantu.

Meningkatkan kecerdasan emosional

" Kepada anak diajarkan cara berpikir realistis dan optimistis, bahwa kadang kala nilai di sekolah dapat naik atau turun, seperti halnya kesehatan, kalau tidak dijaga, bisa turun.
Cara untuk mengajarkan berpikir realistis dan optimistis pada anak adalah membekalinya dengan kecerdasan emosional (EQ, Emotional Quotient) sejak dini. Supaya anak tidak memiliki masalah perilaku di usia dewasanya.

Penelitian Carroll Izard, Ph.D. dari University of Delaware di Newark menunjukkan, anak-anak yang sulit memahami perasaan-perasaan mereka dan orang lain, akan rentan terhadap masalah-masalah perilaku dan pembelajaran di usia lebih besar. Cara yang mudah untuk mengajarkan kecerdasan emosional misalnya dengan:

  • Kartu emosi
    Kartu buatan sendiri dengan gambar yang menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda-beda yang bisa membantu anak mengenali macam-macam perasaan seperti marah atau kaget. Tanyakan pada anak Anda, kapan ia pernah merasakan hal yang sama.
  • Curahan hati
    Anda harus siap membuka diri bila anak ingin bercerita tentang sekolahnya. Anda harus mampu berempati terhadap masalahnya. Jika ia tidak suka bercerita, sering-seringlah bertanya setiap ia pulang sekolah. "Ada apa tadi di se-kolah?", "Ada yang nakal sama kamu?", "Kok, cemberut sih?", dan lainnya.
    Bila kurang efektif, pancing anak agar bercerita. Caranya, menceriterakan pengalaman masa kecil Anda di sekolah, baik yang menyenangkan atau yang buruk. Mungkin hal itu akan merangsang anak untuk bercerita.
  • Membaca dongeng atau buku bersama
    Cari buku-buku yang fokus pada berbagai jenis perasaan, misalnya Chicken Soup for Kid's Soul. Pilihlah dongeng-dongeng yang memberikan pesan moral. Dari kisah-kisah itu anak akan mengetahui bahwa ada banyak orang yang juga mengalami masalah di sekolah atau di rumah. Selain itu, taburilah mereka dengan pesan-pesan moral dan nasihat menjalani hidup untuk meningkatkan kecerdasan moralnya.
  • Bermain peran atau drama
    Latihan memainkan kejadian-kejadian emosional bersama anak. Mi salnya, berpura-pura sakit, mendapat nilai ujian yang jelek, atau lainnya. Libatkan pula saudara dan teman-temannya. Mungkin saja, latihan ini bisa berguna bila anak harus mengikuti pentas drama di sekolah atau saat acara 17 Agustusan di perumahan.
  • Libatkan anak dengan kegiatan olahraga atau Organisasi
    Anak akan belajar bagai-mana bekerja sama dengan orang lain dan belajar bagai-mana memahami sikap teman-teman yang berbeda dengan dirinya. Bila memungkinkan, ajak mereka berkemah, ke gunung, hutan, atau pantai untuk melihat matahari terbit dan terbenam. Hal ini juga erat hubungannya untuk meningkatkan kecerdasan spiritual anak. Masjid, gereja, pura, candi dapat Anda manfaatkan untuk hal ini.
  • Puji dan motivasilah anak
    Bila anak mendapat nilai jelek, beri motivasi bahwa ia masih bisa mencapai nilai yang lebih baik besok atau ujian berikutnya. Anda pun jangan marah bila ia mendapat nilai buruk. Coba renungi apa yang salah, mungkin saja anak sedang stres atau sakit.
    Pujilah, asal jangan berlebihan bila berhasil mencapai prestasi. Anak harus belajar bahwa dirinya memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi, tidak mungkin ia bisa pandai di semua pelajaran. Anak yang perfeksionis cenderung menjadi depresi dibandingkan dengan anak lain. Beri tahu pula mereka agar jangan takut berbuat salah. Karena pengalaman juga merupakan pelajaran berharga untuk menghadapi hidup.
  • "Makanan" bekal melawan stres
    Perbanyak sayur dan buah dalam menu putra-putri Anda. Kalau perlu, senantiasa suplai mereka dengan vitamin dan mineral penting untuk tubuh. Terutama vitamin C yang mujarab untuk menghalau stres dan vitamin B kompleks untuk meningkatkan kerja otak.
    Bila anak merasa lelah, mengantuk, capek, atau bosan akan menyebabkan napasnya semakin perlahan. Pada saat demikian ia tidak dapat berpikir dengan jernih. Bila napas semakin perlahan, paru-paru tidak mampu menyediakan oksigen sesuai kebutuhan tubuh. Juga tidak mampu mengeluarkan karbondioksida secara efisien. Akhirnya, kadar karbondioksida dalam darah meningkat.
    Bila karbondioksida berlebih, sinyal akan dikirim ke otak. Otak akan menyuruh paru-paru untuk mengambil napas panjang dan dalam, yaitu menguap. Oksigen akan terhirup dan karbond ioksida dikeluarkan sebanyak mungkin. Sediakan suasana belajar (jendela, kipas, dsb.) yang mendukung sirkulasi oksigen yang baik.
    Selain itu, biasakan anak-anak untuk banyak minum air putih. Responden yang diteliti di Universitas Bristol di Inggris ternyata dapat menunjukkan prestasi 10% lebih baik di bidang numerik setelah minum segelas air dingin.
  • Metode belajar efektif
    Sebaiknya, ajari putra-putri kesayangan Anda metode belajar yang efektif sejak kecil. Bisa belajar dalam waktu singkat tetapi mampu menyerap pelajaran dengan lebih baik. Sekarang sudah banyak kursus yang menawarkan metode belajar efektif.
    Metode belajar ini diadaptasi dari luar negeri. Biasanya, pada anak akan diajarkan cara menghapal dengan lebih mudah, memba ca lebih cepat, peta pikiran, dan kreativitas. Sebagai orangtua, Anda harus memilih kursus mana yang kurikulumnya paling cocok untuk anak. Kursus ini membutuhkan biaya cukup besar.
    Satu hal penting, berilah mereka kasih sayang yang tulus. Kasih sayang juga merupakan obat ampuh untuk membantu anak menghadapi depresi belajarnya. Seperti dikatakan oleh Lysher, "Saya pikir, yang jadi keinginan utamaku adalah orangtuaku tidak bekerja, dan mereka berada di rumah bersama diriku! Kami dapat senang-senang, pergi keluar bersama-sama!"
    Tragis bukan? Mulai sekarang, segera selamatkan putra-putri Anda dengan belaian kasih sayang!
Sumber :
Femi Olivia S.Si., di Bekasi

Senin, 13 Juli 2009

memasang translator d blog kamu


Memasang widget translator atau "Penerjemah" pada blog banyak sekali gunanya. Translator ini berguna apabila ada pengunjung dari negara lain yang secara sengaja maupun tidak yang melihat blog kita dan tidak tahu bahasa kita maka mereka bisa menggunakan widget ini untuk menterjemahkannya kedalam bahasa yang mereka inginkan (tentunya yang sudah ada di widget ini). Widget ini sudah support untuk bahasa Indonesia. Dan kalo kamu mau, translator ini bisa juga untuk menterjemahkan tugas dari sekolah/kampus secara mudah. Dan hasilnya bisa lebih bagus daripada software transtool lho. Gimana? mau membuatnya? caranya mudah lho. Gini nih...

1. Login ke Blogger trus pilih menu "Layout" atau "Tata Letak"
2. Kemudian klik pada "Add Gadget" atau "tambah gadget=".
3. Lalu pilih HTML/Javascript"
4. Kemudian masukkan script berikut ini kedalamnya.

5. Kemudian simpan.